Selasa, 25 November 2008

Kebudayaan Betawi


Kebudayaan Betawi



Dalam perspektif demografi, para pakar kebetawian pada umumnya memberangkatkan penelitian mereka pada masyarakat Betawi yang menetap di wilayah Kali Besar dan sekitarnya. Hal ini dapat dipahami, mengingat sejak abad ke-12 kawasan Kali Besar berperanan amat penting bersamaan dengan pembangunan pelabuhan (yang kini disebut Pelabuhan Sunda Kelapa) yang dilakukan oleh Kerajaan Sunda Pajajaran. Permukiman dan pasar-pasar segera bermunculan di kawasan tersebut.


Begitu pula kantor-kantor pemerintahan. Istilah “sunda kalapa” (untuk menamai pelabuhan) pun bertalian dengan orang-orang Sunda (Pajajaran) yang pada waktu itu berdatangan, berdagang kelapa atau mencari pekerjaan di pelabuhan yang baru dibangun dan tanpa penghuni atau tanpa penduduk alias kosong-melompong itu. Oleh karena itu, dalam pelbagai penelitian sering kali dikatakan bahwa anak-anak para pendatang itu adalah orang Betawi asli.


Akan tetapi, penjejakan para pakar kebetawian tentang asal-usul orang Betawi tersebut tidak dapat dimutlakkan. Pasalnya, mereka berangkat dari sejarah runtuhnya istana Pangeran Jayakarta gara-gara serbuan pasukan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Jan Pieterszon Coen (1619).


Dikisahkan, istana Pangeran Jayakarta yang berdiri di tepi Kali Besar itu habis dibakar dan penghuninya diusir dari wilayah Kali Besar. Kemudian, Coen membangun kota baru dengan mendatangkan budak-belian dari pelbagai penjuru Nusantara, termasuk dari Burma dan India. Kota baru tersebut dinamai Coen Batavia. Celakanya, itu tadi, para budak-belian itu dalam pengamatan para peneliti kebetawian kemudian kerap kali diidentikkan sebagai leluhur orang Betawi.


Padahal, kenyataan berkata lain. Menurut Slamet Muljana, misalnya, di kawasan Condet (Jakarta Timur) pernah ditemukan sebilah kapak genggam dari zaman neolitikum (bukti bahwa wilayah itu sudah dihuni orang). Lagi pula, juga dikatakan bahwa ketika pasukan Coen menyapu istana Pangeran Jayakarta dan kemudian mendirikan Batavia, kala itu wilayah Kali Besar sudah dihuni oleh masyarakat yang pekerjaannya mencari ikan.


Di dalam Hikayat Banjar pun diterangkan bahwa penduduk asli di wilayah Kali Besar ketika itu (di luar istana Pangeran Jayakarta) berjumlah 15 ribu jiwa. Selain kenyataan ini, di daerah Tugu (kini Kampung Tugu, Tanjungpriuk, Jakarta Utara) pernah ditemukan prasasti berupa tugu peninggalan Raja Tarumanegara Purnawarman (abad ke-5), ketika ia selesai membangun Sungai Chandrabagha (Kali Bekasi). Kata “tugu” yang konon berasal dari kata “Por-tugu-esa” (Portugis) oleh masyarakat Betawi kemudian lebih dikenal sebagai “tunggak” (yang keramat), lalu lama-kelamaan menjadi nama tempat di situ, yakni Keramat Tunggak.


Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Kerajaan Tarumanegara ketika itu cukup luas, yakni berbatas sebelah timur Sungai Citarum, berbatas sebelah barat Sungai Cisadane, berbatas sebelah Selatan Gunung Salak dan Gunung Gede, dan berbatas sebelah utara Laut Jawa, pasti mempunyai rakyat yang berjumlah besar. Dari prasasti Tugu pun telihat bahwa wilayah Sunda Kalapa sudah berpenghuni.


Bertalian dengan hal di atas, maka bahasa Betawi dapat dirunut sejak abad ke-16, ketika orang-orang Portugis mempergunakan bahasa Melayu dialek Tionghoa (Melayu Pasar) sebagai bahasa kreol (bahasa pergaulan). Bahasa Melayu Pasar ini kemudian mendapat “promosi” menjadi bahasa tulisan pada abad ke-19 dan disebut sebagai bahasa Betawi. Jiwa bahasa Betawi terletak pada kebudayaan orang Betawi yang egaliter. Dalam hal nilai-nilai religi, orang Betawi juga bercermin pada nilai-nilai Islam yang disebarkan oleh Kian Santang (makamnya terletak 4,5 km di selatan Jakarta),


Sunan Kali Jaga (melalui legenda Gunung Sembung yang dedaunannya dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit), dan Fatahillah (yang serangannya atas kekuasaan Pajajaran di Sunda Kelapa makin melancarkan penyebaran Islam di Sunda Kalapa dan kemudian Batavia). Hingga dewasa ini, nilai-nilai keislaman tersebut tetap dijadikan pandangan hidup orang Betawi, misalnya menghormati orang yang lebih tua dengan mencium tangan tiap kali bertemu.


Dari sudut keseniannya, kesenian Betawi memperlihatan percampuran budaya yang eklektis antara budaya Arab, Cina, dan Eropa, sekalipun tetap dikentali nuansa Islam. Dewasa ini, upacara ngarak penganten (mengarak pengantin), misalnya, masih diliputi campuran yang eklektis tersebut, seperti mempelai lelaki berjubah dan bersorban (pakaian katib dalam salat Jumat), mengenakan celana batik atau sutera yang dihiasi benang emas, dan menunggang kuda-kecil yang dituntun. Sementara, mempelai perempuannya didandani seperti pengantin Cina, namun didudukkan di atas tandu berbentuk masjid.


Dalam proses pengiringan pengantin, formasi pengiring meliputi sepasang ondel-ondel (yang tempo doeloe dalam format yang sederhana difungsikan sebagai orang-orangan sawah pengusir burung), barisan remaja membawa toya (senjata Cina), barisan santri yang menabuh rebana sambil membaca salawat, barisan regu musik tanjidor (musik Portugis?), dan barisan musik tradisional Betawi (gendang, ketipung, kempul, gong, dan kenong). Hal yang juga kental diawarnai kebudayaan animisme juga terdapat dalam upacara untuk wanita hamil.


Orang Betawi memercayai bahwa aroma tubuh wanita hamil amat disukai setan. Oleh karena itu, untuk menjaganya, dilakukan upacara niga bulanin (upacara tiga bulan), yakni memandikan si ibu hamil dengan air kembang dan melekatkan penajem (benda-benda tajam) di bajunya, seperti pisau lipat kecil atau peniti. Sejak itu, si ibu hamil dipagari oleh sejumlah larangan: tidak boleh duduk di ambang pintu dan tidak boleh menggulung tali, agar tidak berakibat buruk pada fisik bayinya kelak.


Anggota keluarganya pun ikut mengamankan kehamilan dengan memaku pokok pohonan dengan paku 12 cm. Upacara ini kemudian dilanjutkan dengan upacara nuju bulanin (upacara tujuh bulan) dan kekahan (menggunting rambut bayi setelah kelahirannya berusia 14 hari sembari memotong kambing). Upacara ini pada umumnya diiringi oleh kenduri besar-besaran dengan pembacaan Maulid Barzanji.


Masyarakat Betawi juga mengenal pemetaan cabang kesenian tertentu, misalnya kesenian cokek yang hanya digemari di sejumlah tempat tertentu. Begitu pula kesenian topeng, acel, dan samrah. Akan tetapi, ada cabang kesenian yang digemari semua orang Betawi, yakni pantun (puisi lisan yang dibentuk berdasarkan kata-kata sampiran dan kata-kata isi). Isi pantun Betawi, uniknya, tak banyak mengandung nasihat, selain sindiran yang dimaksudkan sebagai sekadar hiburan. Perhatikan pantun berikut ini.

Indung-indung kepala lindung

Ujan di laut di sini mendung

Anak siapa pake kerudung

Mata ngelirik kaki kesandung


Jakarta, 22 Juni 2006

Wahyu Wibowo & A. Latief Wiyata