Enjoy Jakarta?
Oleh: Wahyu Wibowo
PRAKARSA Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam meluncurkan program Enjoy Jakarta (21/3) kiranya patut diacungi ibu jari. Pasalnya, program itu digelar demi menggenjot pariwisata Jakarta 2005. Alhasil, selama 2005 ini warga Jakarta akan disuguhi enam program unggulan, yakni turnamen golf internasional, wisata bahari, wisata belanja, wisata makan, kehidupan malam, dan spa.
Tapi, benarkah suguhan program itu untuk warga Jakarta? Andai dicermati, keenam program tersebut memang dipersembahkan hanya bagi tamu mancanegara, konon agar mereka tidak cemas lagi datang ke Jakarta pascaledakan bom tempo hari. Implikasinya, warga Jakarta harus “cukup” puas disuguhi pelbagai objek wisata seperti Museum Gajah, Museum Wayang, Museum Fatahilah, atau Kebun Binatang Ragunan, yang belakangan ini berkesan telah kehilangan roh kepariwisataannya. Bahkan, tempat-tempat yang “dibangga-banggakan” Pemprov DKI Jakarta itu, kini tenggelam dalam riuh-rendahnya pembangunan mal dan apartemen. Artinya, sebagai warga Jakarta kita “diharuskan” bersyukur jika tidak memiliki objek wisata yang benar-benar mengusung nilai-nilai etis, estetis, dan akademis.
Dengan demikian, benarkah keenam program unggulan tersebut akan membuat orang-orang mancanegara merasa enjoy datang ke Jakarta? Sebab, buat apa datang ke Jakarta hanya untuk “sekadar” berwisata bahari atau berwisata belanja. Bukankah Yogyakarta, misalnya, lebih baik ketimbang Jakarta dalam “menjual” kotanya kepada tamu-tamu mancanegara. Bahkan, di Jakarta, banyak sekolah tinggi yang berkesan kurang pantas “dijual”, mengingat para pengelolanya masih melakukan praktik manajemen keluarga yang terkategori parah dan snob.
Bukan kota enjoy
SAYA tidak benar-benar yakin para tamu mancanegara akan bisa enjoy bila berkunjung ke Jakarta. Cobalah simak empat hal berikut ini.
Jakarta adalah kota macet. Parahnya kemacetan lalu lintas di Jakarta tidak perlu lagi diuraikan. Yang jelas, andai hal ini dikaitkan dengan program turnamen golf, bagaimana nalarnya sebuah kota yang lalu lintasnya semrawut “dijual” melalui turnamen golf? Kesannya, kita hanya ingin menampilkan sisi Jakarta yang mewah dan modern.
Jakarta adalah kota sampah. Melihat sampah yang menggunung, jalan-jalan yang penuh tebaran sampah, dan sungai-sungai yang kotor menghitam, bagaimana kita secara nalar boleh mengaitkannya dengan program wisata bahari? Kesannya, kita berupaya keras tampil necis dan bersepatu mengkilat di suatu pesta, padahal rumah kita kumuh, bocor, dan kebanjiran.
Jakarta adalah kota tawuran dan unjuk rasa. Pada era kebebasan yang kebablasan belakangan ini, tawuran pelajar dan unjuk rasa seolah merupakan hal yang “wajib” dilakukan sebagian warga Jakarta. Bagaimana hal ini dapat dipertalikan secara nalar dengan program wisata makan atau program spa? Lagi pula, di Jakarta tidak ada makanan yang secara estetik (disajikan dalam format nilai-nilai budaya Betawi) yang dapat ditawarkan kepada tamu-tamu mancanegara itu. Apakah mereka “sengaja” dikondisikan home sweet home, sehingga cukup bila disajikan makanan yang memang berasal dari negara mereka? Mengapa, misalnya, mereka tidak digiring ke Bandung atau Padang, yang estetika makanannya jauh lebih baik ketimbang Jakarta.
Jakarta adalah kota copet. Tingginya tingkat kriminalitas di Jakarta, setidaknya secara nalar sulit dihubungkan dengan program wisata belanja. Kita boleh berargumentasi, bukankah mal dan plasa cukup aman bagi pembelanja. Tapi, dalam perspektif pariwisata, kita juga harus menyadari bahwa Jakarta memiliki tempat belanja yang representatif bagi tamu-tamu mancanegara, seperti Pasar Mester, Pasar Tenabang, Passer Baru, Pasar Ular, Pasar Taman Puring, dan Pasar Pramuka.
Oleh: Wahyu Wibowo
PRAKARSA Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam meluncurkan program Enjoy Jakarta (21/3) kiranya patut diacungi ibu jari. Pasalnya, program itu digelar demi menggenjot pariwisata Jakarta 2005. Alhasil, selama 2005 ini warga Jakarta akan disuguhi enam program unggulan, yakni turnamen golf internasional, wisata bahari, wisata belanja, wisata makan, kehidupan malam, dan spa.
Tapi, benarkah suguhan program itu untuk warga Jakarta? Andai dicermati, keenam program tersebut memang dipersembahkan hanya bagi tamu mancanegara, konon agar mereka tidak cemas lagi datang ke Jakarta pascaledakan bom tempo hari. Implikasinya, warga Jakarta harus “cukup” puas disuguhi pelbagai objek wisata seperti Museum Gajah, Museum Wayang, Museum Fatahilah, atau Kebun Binatang Ragunan, yang belakangan ini berkesan telah kehilangan roh kepariwisataannya. Bahkan, tempat-tempat yang “dibangga-banggakan” Pemprov DKI Jakarta itu, kini tenggelam dalam riuh-rendahnya pembangunan mal dan apartemen. Artinya, sebagai warga Jakarta kita “diharuskan” bersyukur jika tidak memiliki objek wisata yang benar-benar mengusung nilai-nilai etis, estetis, dan akademis.
Dengan demikian, benarkah keenam program unggulan tersebut akan membuat orang-orang mancanegara merasa enjoy datang ke Jakarta? Sebab, buat apa datang ke Jakarta hanya untuk “sekadar” berwisata bahari atau berwisata belanja. Bukankah Yogyakarta, misalnya, lebih baik ketimbang Jakarta dalam “menjual” kotanya kepada tamu-tamu mancanegara. Bahkan, di Jakarta, banyak sekolah tinggi yang berkesan kurang pantas “dijual”, mengingat para pengelolanya masih melakukan praktik manajemen keluarga yang terkategori parah dan snob.
Bukan kota enjoy
SAYA tidak benar-benar yakin para tamu mancanegara akan bisa enjoy bila berkunjung ke Jakarta. Cobalah simak empat hal berikut ini.
Jakarta adalah kota macet. Parahnya kemacetan lalu lintas di Jakarta tidak perlu lagi diuraikan. Yang jelas, andai hal ini dikaitkan dengan program turnamen golf, bagaimana nalarnya sebuah kota yang lalu lintasnya semrawut “dijual” melalui turnamen golf? Kesannya, kita hanya ingin menampilkan sisi Jakarta yang mewah dan modern.
Jakarta adalah kota sampah. Melihat sampah yang menggunung, jalan-jalan yang penuh tebaran sampah, dan sungai-sungai yang kotor menghitam, bagaimana kita secara nalar boleh mengaitkannya dengan program wisata bahari? Kesannya, kita berupaya keras tampil necis dan bersepatu mengkilat di suatu pesta, padahal rumah kita kumuh, bocor, dan kebanjiran.
Jakarta adalah kota tawuran dan unjuk rasa. Pada era kebebasan yang kebablasan belakangan ini, tawuran pelajar dan unjuk rasa seolah merupakan hal yang “wajib” dilakukan sebagian warga Jakarta. Bagaimana hal ini dapat dipertalikan secara nalar dengan program wisata makan atau program spa? Lagi pula, di Jakarta tidak ada makanan yang secara estetik (disajikan dalam format nilai-nilai budaya Betawi) yang dapat ditawarkan kepada tamu-tamu mancanegara itu. Apakah mereka “sengaja” dikondisikan home sweet home, sehingga cukup bila disajikan makanan yang memang berasal dari negara mereka? Mengapa, misalnya, mereka tidak digiring ke Bandung atau Padang, yang estetika makanannya jauh lebih baik ketimbang Jakarta.
Jakarta adalah kota copet. Tingginya tingkat kriminalitas di Jakarta, setidaknya secara nalar sulit dihubungkan dengan program wisata belanja. Kita boleh berargumentasi, bukankah mal dan plasa cukup aman bagi pembelanja. Tapi, dalam perspektif pariwisata, kita juga harus menyadari bahwa Jakarta memiliki tempat belanja yang representatif bagi tamu-tamu mancanegara, seperti Pasar Mester, Pasar Tenabang, Passer Baru, Pasar Ular, Pasar Taman Puring, dan Pasar Pramuka.
Jadi, bagi para tetamu bule kita itu, di mana enjoy-nya Jakarta?
Paradigma baru
APA boleh buat, program Enjoy Jakarta sudah diresmikan Pemprov DKI Jakarta. Bahkan, seperti program-program lainnya, program Enjoy Jakarta pasti akan dipertahankan Pemprov DKI Jakarta dengan ngototnya, sekalipun tidak nalar secara etis, estetis, dan akademis. Alhasil, dalam konteks ini, kita tak perlu bersedih melihat Pemprov DKI Jakarta seolah tidak memikirkan “kesejahteraan rohani” warganya melalui program kepariwisataan. Andaipun program itu terpikirkan, maka yang disuguhkan Pemprov DKI Jakarta baru berupa “wisata kota” dalam wujud pembangunan mal yang gila-gilaan, penggusuran kaki lima yang grusa-grusu, dan penanganan banjir dan kemacetan lalu lintas yang tidak solutif.
Lalu, kalau begitu, apa yang harus dilakukan? Hemat saya, kita perlu membuat reorientasi paradigma kepariwisataan Kota Jakarta, dari yang semula “jualan Jakarta” (khususnya untuk tamu asing) menjadi “upaya pengangkatan” nilai-nilai luhur (local genius) kebetawian sebagai ujung tombak atau warna dasar kepariwisataan Kota Jakarta. Upaya pengangkatan tersebut berupa revitalisasi nilai-nilai filosofis budaya Betawi. Artinya, jangan menganggap entitas Betawi hanya sebagai “cagar budaya” (sebagaimana nasib suku Aborigin di Australia atau suku Indian di Amerika), melainkan juga memasukkan nilai-nilai filosofis budaya Betawi ke dalam gerak napas kehidupan kepariwisataan Kota Jakarta secara operasional.
Melalui revitalisasi tersebut, selain mampu melenyapkan etnosetrisme di kalangan siapa pun warga Jakarta, juga akan membuat Kota Jakarta memiliki jati dirinya sendiri. Apalagi, pada era otonomi daerah ini, posisi budaya daerah tidak lagi seperti zaman Orde Baru, yang seolah-olah dilindungi namun dibiarkan meranggas. Dampaknya, integrasi antarbudaya daerah menjadi mati, sehingga kita kehilangan perekat dalam hal persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan, gerakan “ideologi” kebebasan yang dewasa ini lantang disuarakan, lihatlah, dalam banyak kasus justru membuat nyawa melayang, harta benda terkuras, dan remuknya infrastruktur, pendidikan, ekonomi, dan seterusnya. Dalam kaitan ini, amat pantas kita melakukan revitalisasi nilai-nilai filosofi budaya Betawi untuk ditempatkan sebagai landasan pokok di dalam arus besar kepariwisataan Kota Jakarta. Kita boleh mengatakan bahwa Jakarta adalah multikultur, sehingga kurang pantas jika nilai-nilai filosofis budaya Betawi dijadikan landasan utama. Namun, jangan lupa, entitas Betawi juga cerminan amat kental multikulturisme. Bahkan, sebagaimana dikatakan para pakar humaniora, kebudayaan Betawi merupakan potret miniatur bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, hemat saya, nilai-nilai filosofis budaya Betawi, seperti yang terungkap di dalam ungkapan Betawi (“taat ame orang tue”, misalnya), prosa Betawi, arsitektur Betawi, lagu-lagu Betawi (“Cente Manis”, misalnya), atau tari-tarian Betawi, jika direvitalisasi justru makin mengokohkan jati diri Kota Jakarta sebagai kota metropolit-kosmopolitan. Orang Betawi memiliki sifat yang egaliter, sebagaimana terpantul dari bahasa dan komunikasi sosial mereka. Namun demikian, tidak berarti orang Betawi bersifat individualistis, mengingat mereka juga memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Hal ini kentara pada upacara tradisional kebetawian, seperti kelahiran, pernikahan, perjamuan tamu, menjenguk orang sakit, dan bahkan dalam mereka membantu tetangga yang sedang ditimpa kemalangan. Tidak hanya itu, orang Betawi juga memiliki pandangan hidup bahwa manusia adalah makhluk individu yang sekaligus makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dapat kita buktikan manakala kita melihat kentalnya kehidupan sehari-hari orang Betawi dengan kehidupan agama Islam. Bahkan, nilai-nilai filosofis budaya Betawi amat dipengaruhi agama Islam, seperti Ruwahan, Syawalan, atau Lebaran. Dalam konteks ini, tentu tidak dapat dikatakan bahwa kebudayaan Betawi bersifat statis. Sebab, pengaruh budaya modern sebagai tuntutan mondialisme dapat disinergiskan melalui revitalisasi nilai-nilai filosofis budaya Betawi tersebut. Kenyataan ini tentu bukanlah sesuatu yang mengada-ada, mengingat selalu terdapat proses tranformasi budaya di dalam suatu budaya yang dinamis. Lagi pula, amat wajar pula bila perkembangan suatu budaya seiring-sejalan dengan kesadaran budaya para pemimpinnya.
Nah, kalau saya menjadi gubernur Jakarta, saya jamin deh kepariwisataan Kota Jakarta akan menampilkan ciri-ciri kejakartaannya (tapi, ini, mimpi kalee yee…). Tabik!
Dr. Wahyu Wibowo, adalah kepala Pusat Studi Betawi Universitas Nasional, Jakarta; orang Betawi kelahiran Kemayoran, Maret 1957; dosen, penyair, jurnalis, dan penulis 23 judul buku mengenai bahasa, sastra, komunikasi, dan kepenulisan pragmatik.
