Sabtu, 29 November 2008

Sadar-wisata

KEPARIWISATAAN JAKARTA HARUS DIAWALI
DARI SADAR-WISATA YANG BERPANGKAL
PADA LOCAL GENIUS KEBETAWIAN

Oleh: H. Margani M.

APA yang menjadi roh kepariwisataan Jakarta? Pertanyaan ini menjadi menarik, mengingat topik makalah ini adalah “Perspektif Nilai-nilai Luhur Kebetawian dalam Strategi Kepariwisataan Jakarta”, yang hemat penulis memang sudah saatnya dikemukakan. Salut kepada Pusat Studi Betawi Universitas Nasional, Jakarta, yang telah memprakarsai seminar ini.

Dikatakan sudah saatnya, karena hingga kini kepariwisataan Jakarta terkesan “hanya” bertalian dengan peninggalan kuno, museum-museum, tempat-tempat bersejarah, dan bentuk-bentuk kebudayaan fisik lainnya yang dianggap lekat dengan eksistensi Kota Jakarta. Padahal, andai hendak dilihat melalui perspektif kultural, tidak sedikit nilai-nilai luhur kebetawian yang patut ditampilkan ke pentas kepariwisataan Jakarta. Untuk itu, perlu dirumuskan kembali strategi kepariwisataan yang lebih holistik dan “membumi”, yang dalam hal ini dengan mengikutsertakan nilai-nilai kebetawian.

Bagaimana caranya? Resep yang akan dikemukakan adalah dengan memompa semangat sadar-wisata. Maksudnya, kesadaran terhadap local genius kebetawian yang dikemas dalam semangat marketing.

Local Genius Kebetawian
KESADARAN terhadap local genius kebetawian sudah semestinya ditanamkan kepada masyarakat (yang lahir di) Jakarta, paling tidak sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah dan tinggi. Akan tetapi, mengingat makna local genius kebetawian adalah ciri-ciri lokal atau identitas lokal yang bertahun-tahun telah dianggap sebagai nilai-nilai luhur orang-orang Betawi, tidak berlebihan rasanya jika ciri-ciri lokal tersebut ditanamkan kepada anak-anak (di) Jakarta, sejak mereka duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Dengan demikian, sikap sadar-wisata sebagaimana dimaksud akan tumbuh dan berkembang. Persoalannya, mampukah kita menyusun kurikulum mengenai kebetawian? Atau, dalam perkataan lain, mampukah kita mengontribusikan wawasan kebetawian ke dalam kurikulum sekolah di Jakarta? Sebab, sebagaimana kita ketahui, di sejumlah daerah kita sudah menemui muatan lokal sebagai bagian dari kurikulum daerah tersebut. Artinya, menguatkan napas otonomi daerah, tiap-tiap sekolah di daerah sudah mampu menunjukkan di dalam muatan lokal mereka bahwa mereka memiliki local genius. Sedangkan, sementara itu, sekolah di Jakarta boleh dikatakan belum memiliki muatan lokal kebetawian sebagaimana diharapkan. Padahal, sebagaimana sudah disinggung, local genius kebetawian yang diberikan kepada anak-anak sekolah di Jakarta akan menumbuhkan sadar-wisata di dalam diri mereka.

Dalam kaitan dengan hal di atas, mungkin kita masih terkendala oleh semacam etnosentrisme mengenai betawi sebagai etnik dan betawi sebagai entitas nasional. Atau, jika disederhanakan, siapakah orang Betawi? Padahal, dalam perspektif nasionalisme, seluruh warga Jakarta adalah orang Betawi. Sedangkan, dalam perspektif kultural, terdapat etnik Betawi (yang jumlahnya beragam) yang dalam kehidupannya sehari-hari memiliki norma (patokan) moral tersendiri, memiliki sistem sosial tersendiri, dan memiliki tingkah laku (etika) tersendiri. Norma, sistem sosial, dan tingkah laku yang tersendiri orang-orang Betawi inilah yang kita kenal sebagai kebudayaan Betawi. Dalam konteks ini, bukankah kita kerap mendengar ungkapan, misalnya, “orang Jakarta kurang disiplin” atau “orang Jakarta tidak peduli dengan lingkungannya”.

Boleh dipertanyakan, siapakah yang dimaksud dengan “orang Jakarta” tersebut? Kita semua yang menetap di Jakarta (dan sekitarnya) ataukah orang-orang Betawi itu? Pertanyaan ini, andai dipertalikan dengan istilah kebudayaan Betawi, agaknya dapat dijawab sebagai berikut. Ketidakpedulian warga Jakarta terhadap lingkungannya dapat diklasifikasikan ke dalam dua hal besar berikut ini: (a) warga Jakarta tidak benar-benar memahami local genius kebetawian. Dampak dari hal ini, warga Betawi asli (etnik asli Jakarta) berkesan disisihkan. Alhasil, kebudayaan Betawi pun hanya dijadikan sekadar aksesori. Contohnya, halte bus di Ibu Kota banyak yang diberi hiasan gigi belalang, namun ini hanyalah sekadar ornamen (belum sampai pada roh atau hakikat nilai-nilai kebetawiannya); dan (b) oleh karena itu, warga Jakarta kurang memiliki kearifan lokal (keberpihakan pada local genius kebetawian).

Dampaknya, warga Betawi (etnik asli Jakarta) merasa tidak pernah diajak urun-rembuk (dimintai sumbangan pikiran) oleh siapa pun yang merasa memiliki Jakarta. Tanpa beranjak dari nilai-nilai kearifan lokal budaya Betawi, akibatnya arah pembangunan Jakarta hanya diacukan dari nilai-nilai modernitas Barat. Alhasil, apa bedanya Jakarta dengan kota-kota metropolitan lainnya di dunia? Atau, dalam ungkapan lain, apanya dari Jakarta yang “boleh dijual” untuk kepentingan pariwisatanya? Ya, apa yang menjadi roh kepariwisataan Jakarta?

Fungsi PR dalam Sadar-Wisata
SADAR-WISATA, dalam kaitan ini, berarti anak-anak Jakarta mampu memahami local genius kebetawian. Hal ini, sebagaimana telah disinggung, akan bisa dicapai melalui muatan lokal yang terarah dan berwawasan. Implikasinya, selaras dengan kebijakan Pemerintah DKI Jakarta yang menggarisbawahi bahwa sekolah-sekolah di Jakarta harus mampu menghargai lingkungannya.

Local genius kebetawian yang dimaksud, di antaranya, adalah nilai egaliter warga Betawi. Terbukti, di dalam pergaulan, misalnya, warga Betawi menunjukkan sikap yang terbuka, tidak pilih-pilih bulu, dan berkesan selalu ingin menyenangkan orang lain. Egaliterisme ini, bahkan, bisa dijadikan andalan dalam pergaulan mondial dewasa ini. Artinya, anak-anak Jakarta yang telah memahami egaliterisme (sebagai salah satu anasir local genius kebetawian), akan bisa menunjukkan sikap dan perilaku khasnya kepada orang lain. Sikap dan perilaku yang khas ini, oleh orang lain tentulah ditafsirkan sebagai ciri-ciri kultural Kota Jakarta. Sebaliknya, secara internal, anak-anak yang telah memahami nilai-nilai egaliterisme itu, lebih menghargai nilai-nilai pergaulan antarsesama. Pada gilirannya, penghargaan itu akan makin mengokohkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa.

Dalam perspektif marketing, anak-anak yang telah sadar-wisata itu otomatis juga akan berfungsi sebagai PR (public relations) mengenai Kota Jakarta. Kita paham, fungsi PR yang paling dominan adalah pemberian informasi dan penciptaan citraan. Oleh karena itu, perihal sadar-wisata, melalui muatan lokal yang berisikan local genius kebetawian, mestilah menjadi perhatian kita semua.

Tak Lepas dari Pendidikan
APA yang menjadi roh kepariwisataan Jakarta? Apakah masih di seputar peninggalan kuno, museum-museum, tempat-tempat bersejarah, dan bentuk-bentuk kebudayaan fisik lainnya yang dianggap lekat dengan eksistensi Kota Jakarta?

Andai memahami local genius kebetawian, yang kemudian diangkat ke dalam muatan lokal, maka kita segera paham bahwa kepariwisataan Jakarta teryata tak lepas dari pendidikan dasar, menengah, dan tinggi. Hal ini, berimplikasi pada pendidikan masyarakat Jakarta yang sadar-wisata. Atau, dalam ungkapan lain, kepariwisataan Jakarta semestinya dan sepatutnya dilakukan melalui pendidikan. Melalui pendidikan, anak-anak Jakarta akan mencintai kotanya, yang kemudian secara otomatis juga akan menjadikannya PR bagi orang lain yang “ingin tahu” Jakarta. Oleh karena itu, local genius kebetawian itu mesti kita gali terus-menerus.

Tanpa kepedulian pada local genius kebetawian, dapat diramalkan fondasi kepariwisataan Jakarta hanya berputar pada hal-hal fisik belaka, yang makin lama makin kehilangan kekhasannya. Dalam perspektif kesatuan dan persatuan bangsa, tanpa kepedulian pada local genius kebetawian juga mengancam terkikisnya jati diri bangsa. Oleh karena itu, sebagaimana sudah dikatakan berulang-ulang, local genius kebetawian mestilah digali terus-menerus dan kemudian dijadikan muatan lokal di dalam kurikulum sekolah, atau diperkenalkan secara luas melalui aktivitas tertentu, seperti yang dilakukan oleh Pusat Studi Betawi Universitas Nasional ini.

Jakarta, 16 Maret 2005

H. Margani, M., M.Sc., adalah kepala dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Provinsi DKI. Makalah ini ditulis untuk acara Seminar Revitalisasi Budaya Betawi, diselenggarakan oleh Pusat Studi Betawi Unas, Jakarta, Maret 2005.